imsitumeang

Aplikasi Bioteknologi Butuh Dukungan

In Uncategorized on f 19, 09 at 12:51 am

Kompas, Rabu, 18 Februari 2009

Jakarta, Kompas – Kebijakan keamanan pangan Indonesia belum optimal. Impor komoditas pangan dan sandang serta makanan kemasan produk rekayasa genetik dibiarkan tanpa ada kontrol. Di sisi lain, aplikasi tanaman bioteknologi yang jelas dapat mendongkrak pendapatan petani terbentur banyak hambatan.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Bambang Purwantara, Selasa (17/2) di Jakarta, Indonesia terus mengimpor kedelai yang boleh jadi merupakan produk tanaman bioteknologi dari Brasil, Argentina, dan Amerika Serikat. Begitu pula dengan impor kapas.

Padahal, impor komoditas pangan jauh lebih mahal daripada mendatangkan benih bioteknologi. Impor komoditas pangan hanya akan menyejahterakan petani di negara produsen. ”Akan lebih baik kalau keuntungan itu diberikan petani kita,” katanya.

Sekretaris Eksekutif Care Institut Pertanian Bogor Dahri Tanjung mengungkapkan, setiap tahun devisa negara terkuras. Impor kedelai mencapai Rp 7,5 triliun dan jagung Rp 1,2 triliun per tahun. Belum lagi kapas sebagai bahan baku tekstil yang hampir 100 persen impor, begitu pula dengan gandum.

Randy Hautea, Koordinator Global Service for SEAsia Center The International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications mengungkapkan, aplikasi pertanaman bioteknologi memerlukan dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah.

Filipina merupakan salah satu negara berkembang yang sebelumnya menolak keras pertanaman bioteknologi, tetapi sekarang menanam seluas 300.000 hektar karena melihat peningkatan keuntungan petani.

Edwin Sanso Saragih, pengamat kebijakan bioteknologi, mengungkapkan, hasil studinyamenunjukkan bahwa keinginan petani hanyalah bagaimana meningkatkan penghasilan.

Sementara itu, Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan, masalah kedaulatan pangan sekarang bukan pada ketidakmampuan memproduksi pangan. ”Tetapi, siapa yang akan mengontrol pangan di masa depan,” katanya.

Dengan membuka kebijakan penanaman tanaman bioteknologi, bangsa Indonesia mengawali penyerahan kontrol pangan rakyat kepada segelintir pemilik modal, yakni industri benih dan obat-obatan. Belum lagi melihat dampak lingkungan yang bisa timbul. (MAS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: