imsitumeang

Tragedi Sang Dukun Cilik

In Uncategorized on f 18, 09 at 2:02 am

TEMPO Interaktif, Senin, 16 Februari 2009

Ini sebuah kisah indonesiana: dramatis, tragis, barangkali hanya ada di negeri ini. Di antara siraman hujan deras nun di Dusun Kedungsari, Kabupaten Jombang, pada Januari lalu, konon kilat menyambar sebongkah batu berbentuk kepala belut. Ponari, anak lelaki 10 tahun, menemukan batu itu. Entah ide dari mana sang bocah memasukkan batu ke air dan orang ramai-ramai percaya air itu bisa melenyapkan semua jenis penyakit.

Tak percaya? Itu urusan Anda. Tapi ribuan, bahkan puluhan ribu, orang hakulyakin akan keampuhan air batu cokelat itu. Setiap hari rumah Ponari didatangi orang yang ingin berobat. Pasiennya bejibun dan bocah kelas III sekolah dasar itu tak lagi sempat bersekolah. Semakin hari semakin deras aliran manusia datang. Gara-gara berdesakan dan berebutan, empat orang tewas. Fantasi berujung tragedi.

Media sibuk meributkan irasionalitas masyarakat yang mau saja berdesak-desak untuk sebuah penyembuhan yang tak jelas juntrungannya. Ada lagi pihak yang mempersoalkan terjadinya eksploitasi anak. Polisi sempat melarang praktek Ponari untuk beberapa saat setelah peristiwa tewasnya calon pasien sang dukun cilik. Bagaimana semua ini harus kita lihat?

Pertama, irasionalitas memang bagian dari masyarakat, yang sudah berpendidikan tinggi sekalipun. Pencetus ide Blue Energy yakin air bisa direkayasa menjadi minyak. Pencipta padi jenis Super Toy percaya bisa menghasilkan padi dalam jumlah fantastis. Masyarakat cenderung percaya pada mistik karena persoalan kultural, juga percaya pada solusi instan dalam pengobatan; karier, jodoh, atau apa pun. Melalui jalur mistik, orang sering berharap mendapat “kekuatan”, sugesti, untuk mencapai keinginan yang paling tak masuk akal sekalipun. Bayangkan, batu Ponari itu dipercaya mempunyai “tugas utama” menghentikan semburan lumpur Lapindo. Celakanya, pernyataan keluarga Ponari itu ditanggapi serius pihak yang ditugaskan menanggulangi soal Lumpur di Sidoarjo tersebut.

Kedua, pemilihan jalur mistik untuk pengobatan juga harus dipahami sebagai akibat dari beberapa sebab. Pengobatan medis selalu identik dengan biaya yang mahal. Ini penyebab penting yang mendorong orang mencari pengobatan alternatif, mulai yang sudah diakui oleh Departemen Kesehatan sampai pengobatan mistik, termasuk batu yang kena setrum petir itu.

Dalam soal Ponari, sebaiknya orang tua dan pihak berwenang mengingat kepentingan bocah yang masih kelas III SD itu. Ia masih harus menempuh pendidikan. Bukan hanya karena itu kewajiban setiap anak Indonesia, melainkan juga karena itu adalah haknya. Orang ramai juga harus disadarkan bahwa Ponari bukan juru selamat. Ia seorang anak biasa yang perlu diselamatkan kesehatan jasmani dan rohaninya. Adapun masalah lumpur Lapindo, biarlah pihak yang punya kuasa dan uang serta akal sehat yang memikirkan solusi yang rasional.

Dari kasus ini, seharusnya Departemen Kesehatan berkampanye agar masyarakat lebih terdorong pergi ke puskesmas daripada memilih penyembuhan mistis yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Dunia kesehatan medis yang memihak rakyat harus lebih ditingkatkan. Tentu perlu kerja keras berjangka panjang, tetapi itulah gunanya Departemen Kesehatan. Jika usaha tidak dilakukan, kisah fantasi dan tragedi macam Ponari akan selalu berulang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: