imsitumeang

Potret Buram Transjakarta

In Uncategorized on f 18, 09 at 1:57 am

TEMPO Interaktif, Senin, 02 Februari 2009

Nasib Transjakarta makin tak jelas saja. Padahal proyek bus rapid transit ini sudah berjalan lima tahun. Alih-alih membantu mengatasi kemacetan di Ibu Kota, bus dengan jalur khusus ini malah membikin lalu lintas semrawut. Jalur bus Transjakarta gampang diserobot kendaraan pribadi dan angkutan umum. Di koridor tertentu, petugas bahkan mempersilakan kendaraan non-Transjakarta masuk jalur ini.

Selama masa pemerintahan Gubernur Fauzi Bowo yang berlangsung setahun lebih ini tak tampak ada perbaikan. Yang terjadi justru penundaan pengoperasian di beberapa koridor yang jalurnya sudah jadi. Alasan Pak Gubernur untuk berhati-hati, agar tak menabrak koridor hukum, terutama soal pengadaan bus, masuk akal. Apalagi, di masa Sutiyoso menjadi gubernur, penerapan proyek ini dikritik asal jalan. Bang Yos pun hampir berurusan dengan hukum.

Merapikan sistem internal tak boleh dijadikan alasan untuk menunda pembenahan. Apalagi semua target yang ditetapkan proyek ini sedari awal belum terpenuhi. Jumlah busnya masih kurang. Pengoperasian koridor yang direncanakan kelar hingga 15 jalur molor entah sampai kapan. Bahkan jalur dan shelter yang siap pakai, yaitu koridor Pluit-Pinang Ranti dan rute Cililitan-Tanjung Priok, belum jelas kapan akan dioperasikan.

Masih jauh panggang dari api. Transjakarta hanya mengangkut 230 ribu penumpang dari target 5 juta penumpang per hari pada 2010. Waktu tunggu bus (headway) yang direncanakan 3-5 menit jauh dari kenyataan. Kita mesti menunggu 15-30 menit–bahkan lebih lama pada jam sibuk. Sejumlah fasilitas yang sudah dibangun ada yang terbengkalai, tak sedikit yang rusak.

Gubernur boleh berhati-hati membenahi sistem transportasi. Tapi jangan lupakan hal lain yang mendesak: kemacetan lalu lintas. Solusinya harus menyeluruh dan terintegrasi. Misalnya mengkampanyekan perlunya publik yang semula naik mobil pribadi berpindah naik bus Transjakarta. Tentu saja dengan jaminan keamanan dan kenyamanan, termasuk tersedianya feeder yang memadai. Jalur bus Transjakarta harus steril, kondisi prasarana pun perlu dirawat–jangan biarkan jembatan penyeberangan rusak atau atapnya bolong.

Pemerintah kota juga harus meyakinkan warga melalui paket kebijakan transportasi publik yang mampu menjadi solusi kemacetan. Transjakarta hanya salah satu cara. Harus ada kebijakan lain yang bisa bersinergi dengan Transjakarta. Juga ada insentif bagi warga yang menggunakan kendaraan umum dan disinsentif bagi pengguna kendaraan pribadi–misalnya dikenai pajak ketika memasuki jalan protokol. Kelak hasil pajaknya bisa dipakai untuk perbaikan prasarana proyek ini.

Kemacetan lalu lintas di Jakarta sudah sangat kronis. Bila keadaan seperti ini berlanjut tanpa solusi pasti, Jakarta akan menjadi kota stagnan. Jalanan kota makin tak manusiawi, tak berpihak kepada publik. Menurut data 2007, kemacetan berkelanjutan menimbulkan kerugian senilai Rp 43 triliun setahun–lebih dari dua kali anggaran pendapatan dan belanja DKI Jakarta. Inilah saat yang tepat bagi Fauzi Bowo untuk membuktikan bahwa dialah memang “ahlinya” dalam mengurus kemacetan Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: