imsitumeang

Jangan Sebatas Kiasan Yoyo

In Uncategorized on f 18, 09 at 1:52 am

TEMPO Interaktif, Jum’at, 30 Januari 2009

Perang kata antara Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono semakin seru, bahkan menggelikan. Hiburan gratis, buah dari demokratisasi, ini tidak perlu dianggap berlebihan, apalagi ditabukan. Hanya kualitas perdebatan yang perlu diperbaiki.

Harus diakui, kiasan-kiasan yang dilontarkan Megawati, pesaing terkuat calon Yudhoyono dalam pemilihan presiden nanti, cukup berhasil menyedot perhatian khalayak. Setelah sebelumnya mengkritik Presiden dengan istilah “poco-poco” dan “tebar pesona”, kini ia menyebut pemerintah Yudhoyono memperlakukan rakyat seperti bermain “yoyo”. Kecaman terakhir buat menggambarkan kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan-bakar minyak, lalu menurunkannya lagi.

Kendati ungkapan itu lucu, Megawati berhenti pada kreativitas menciptakan kiasan. Ia tidak menjelaskan dengan gamblang kebijakan seperti apa yang seharusnya diambil pemerintah menghadapi fluktuasi harga minyak dunia. Adakah Mega memiliki resep lebih jitu andaikata ia memimpin?

Presiden Yudhoyono pun cuma menanggapi kecaman lewat sindiran. Ia meminta orang berkaca dulu sebelum mengkritik. Adapun juru bicaranya, Andi Mallarangeng, justru mempersoalkan kubu Mega yang suka menggunakan istilah seputar anak-anak. Dulu Jenderal Yudhoyono pernah disebut bersikap kekanak-kanakan, dan kini ada lagi soal yoyo. Bagi Andi, kritik seperti ini tak berpengaruh dalam pemilu.

Sama seperti kualitas kritikan, jawaban dari kubu Yudhoyono tidak menohok ke persoalan. Khalayak sama sekali tidak mendapat pemahaman yang lebih jelas mengenai kebijakan ekonomi negeri ini. Sebagian orang akan bertanya-tanya, apakah kebijakan “yoyo” itu keliru atau memang merupakan pilihan terbaik menghadapi situasi perekonomian.

Begitu pula ketika perdebatan itu memancing perang iklan di antara kedua kubu di sejumlah media. Publik hanya disodori data mengenai harga kebutuhan pokok dan harga bahan bakar minyak di era ketika Megawati jadi presiden dibanding harga sekarang. Kubu Yudhoyono kemudian membalasnya dengan membeberkan daftar harga kebutuhan yang telah diturunkan.

“Perang harga” ini cenderung membodohi publik, karena baik kubu Mega maupun kubu Yudhoyono melepaskannya dari konteks persoalan. Naiknya harga-harga karena inflasi bukanlah masalah asalkan diikuti dengan kenaikan daya beli masyarakat. Problemnya, daya beli masyarakat selama ini tidak tumbuh signifikan. Inilah seharusnya yang dipersoalkan kubu Mega dan dijawab oleh pemerintah. Celakanya, kubu Yudhoyono pun terpancing menanggapi kritik itu dengan jurus serupa–kata-kata kurang bermakna–yang justru semakin membingungkan khalayak.

Publik perlu sekali mendapat pemahaman perihal bagaimana negara ini seharusnya dikelola agar menjadi lebih baik dan kesejahteraan rakyat pun meningkat. Di sini terbentang persoalan luas: pemberantasan korupsi, penanganan krisis ekonomi termasuk mengatasi pengangguran, layanan pendidikan dan kesehatan, dan seterusnya. Inilah yang seharusnya diperdebatkan, bukan sebatas melempar kiasan yoyo atau menyodorkan cermin untuk berkaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: