imsitumeang

Jalan Panjang Menuju Provinsi Tapanuli

In Uncategorized on f 5, 09 at 12:05 am

Koran Tempo, Rabu, 4 Februari 2009
Alasannya adalah demi pemerataan pembangunan, karena masing-masing wilayah mempunyai kekuatan ekonomi berupa perkebunan dan pelabuhan.

Ide pemekaran Sumatera Utara sebenarnya sudah muncul pada 1950-an. Tiga provinsi yang diusulkan adalah Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, dan Asahan; Nias, Tapanuli Tengah, Utara, dan Simalungun; serta Karo, Deli Serdang, Langkat, dan Medan. Alasannya adalah demi pemerataan pembangunan, karena masing-masing wilayah mempunyai kekuatan ekonomi berupa perkebunan dan pelabuhan.

Lama terpendam, usul pemekaran kembali menghangat sejak era otonomi daerah. Puncaknya terjadi pada 2006, ketika 10 kabupaten/kota eks Karesidenan Tapanuli, yang terdiri atas Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Samosir, Sibolga, Nias, Nias Selatan, Dairi, dan Pakpak Barat, membentuk Panitia Pembentukan Provinsi Tapanuli (P3T).

“Ini murni aspirasi rakyat, dan kami siap dengan sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang ada di Tapanuli untuk mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli,” kata anggota P3T, Budiman Nadapdap. Modal untuk jadi provinsi mandiri sudah ada: wilayah subur seluas 2 juta hektare dan penduduk 2,4 juta jiwa.

Namun, gagasan ini memang menuai pro dan kontra. Sejumlah pihak yang mendukung pendirian Provinsi Tapanuli menilai pemerintah Medan selama ini menganaktirikan wilayah di pesisir barat Sumatera itu sehingga tertinggal dibanding daerah lain. Sedangkan yang antipemekaran beralasan, selama ini sebagian besar anggaran daerah sudah diberikan untuk pembangunan di wilayah Tapanuli.

Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui pembentukan provinsi dan menyerahkan ke DPRD Sumatera Utara untuk pengesahannya. Tapi, rupanya, perjalanannya tidak terlalu mulus. Panitia Musyawarah yang dibentuk DPRD Sumatera Utara untuk membahas pemekaran ini tidak kunjung mengambil keputusan.

Di sisi lain, 10 daerah penggagas Provinsi Tapanuli mulai tidak kompak. Akhir tahun lalu, DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah mencabut dukungan mereka. Begitu juga Kabupaten Nias dan Nias Selatan, yang bergabung dengan Nias Utara, Nias Barat, dan Gunungsitoli mendeklarasikan pembentukan Provinsi Nias.

Akhir Januari lalu sidang panitia musyawarah untuk menentukan paripurna pengesahan pembentukan provinsi baru itu tidak bisa memenuhi kuorum. Dari 30 anggota panitia, yang hadir hanya sembilan orang. Menurut anggota Panmus DPRD Sumatera Utara, H. Hidayatullah, ketidakhadiran sebagian anggota Panmus, khususnya para pendukung Provinsi Tapanuli, memercikkan tanda tanya tersendiri. Tapi, tampaknya, perjalanan lahirnya provinsi baru itu tidak mulus. DPRD tidak juga mengetuk keputusan.

Lambannya proses ini membuat pendukung Tapanuli tidak sabar. Unjuk rasa digelar hampir saban hari, dan puncaknya terjadi kemarin ketika Ketua DPRD Azis Angkat menjadi korban kebrutalan massa. Sebuah keinginan untuk mandiri yang harus ditebus sangat mahal. Yudono (berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: