imsitumeang

Mohammed Mursi Menjadi Presiden Terpilih Mesir

In Uncategorized on f 25, 12 at 5:39 am

Calon presiden yang diusung Ikhwanul Muslimin, Mohammed Mursi, memenangkan Pemilihan Umum Presiden Mesir. Ia meraih 13,2 juta suara dari 26 juta pemilih. Rivalnya, Ahmed Shafiq, meraih 12,3 juta suara, sisanya 800 ribu surat suara tak sah. Berarti mengantongi 51,7 persen suara, sementara Shafiq 48,3 persen suara. Ketua Komisi Pemilihan Tinggi Presiden Mesir Farouq Sultan mengumumkan kemenangan Mursi di kantor pusat sebagai hasil tahap kedua atau terakhir.

Mursi merupakan calon non militer. Ia mengakhiri monopoli militer selama 60 tahun. Presiden pendahulunya seperti Mohamed Naguib, Gamal Abdel-Nasser, Anwar El-Saddat dan Hosni Mubarak, semuanya militer. Saingan Mursi di tahap kedua juga militer, yaitu mantan admiral tentara angkatan udara, dan mantan perdana menteri di era Hosni Mubarak. Mesir menjadi kiblat modernisasi jazirah Arab yang kekuasaan para pemimpinnya rata-rata terpusat atau tunggal, termasuk kemunculan seorang penguasa berwatak sipil.

Namun, kemenangan Mursi sebagai penguasa berwatak sipil tidak mengurangi cengkeraman militer. Perkembangan terakhir, militer Mesir membubarkan parlemen dan menangkap siapapun yang merugikan negara. Junta militer berusaha untuk mempengaruhi pemungutan suara. Tetapi pendukung Ikhwanul Muslimin yang memenuhi Bundaran Tahrir sepekan terakhir mendesak para pihak agar jangan mempermainkan hasil pemilihan umum. Mereka bersiap-siap untuk mendeklarasikan bahwa Mursi memenangi pertarungan.

Mesir sukses menyelenggarakan pemilihan umum. Mursi resmi menjadi presiden terpilih yang kesatu dalam sejarah negeri Seribu Menara yang berpenduduk terbanyak di dunia Arab, yakni 90 juta jiwa. Selama Mesir modern terbentuk, belum ada seorang presiden pun yang dipilih langsung oleh rakyat. Pemilihan umum versi Mubarak hanya jajak pendapat calon presiden Mesir tahun 2005 yang memenangkan Mubarak. Ia berkuasa selama 30 tahun dan berhenti setelah 18 hari protes di seluruh wilayah. Terpilihnya Mursi menandai berakhirnya era Mubarakisme.

Kemenangan Musri adalah kemenangan Ikhwanul Muslimin setelah berjuang 84 tahun. Padahal di zaman-zaman sebelumnya, organisasi yang didirikan da’i kesohor Mesir, Hassan Al Banna, tahun 1928 itu dituduh sebagai organisasi terlarang di tiga era presiden, yaitu sejak Presiden Gamal Abdel-Nasser yang berkuasa tahun 1956-1970, berlanjut ke Presiden Anwar El-Saddat (1970-1981), hingga Presiden Hosni Mubarak (1981-2011).

Ikhwanul Muslimin mendapat momentum ketika dunia Arab “demam” Revolusi Musim Semi atau Arab Spring mengiringi tumbangnya rezim Mubarak tanggal 11 Februari 2011 menyusul Presiden Tunisia, Zaine Abidin Ben Ali, sebulan sebelumnya. Di era sebagai organisasi terlarang itu, banyak pemimpin Ikhwanul Muslimin disiksa dan dipenjara tanpa lewat pengadilan. Salah satu tokoh karismatik, Sayed Qutub, dihukum gantung di era Nasser tahun 1966 atas dakwaan penggulingan pemerintah.

Mursi yang kelahiran Desa Adwah, Provinsi Syarqiyah, bagian timur Mesir, tanggal 20 Agustus 1951 berlatar keluarga petani. Mursi memiliki seorang istri serta lima anak dan tiga cucu. Seperti pemimpin Ikhwanul Muslimin lainnya, sarjana lulusan Universitas Kairo dan doktor teknik material jebolan University of Southern California tahun 1982 itu makan asam garam perjuangan. Ia keluar-masuk penjara mempertahankan keteguhan sikapnya. Kemenangan kandidat Muslim di Mesir ini menyusul Maroko, Tunisia, dan Libya yang dikuasai kelompok Islam setelah Revolusi Arab merebak tahun lalu.

Selain di dunia akademisi sebagai dosen di almamaternya, University of Southern California, serta dosen di Universitas Kairo dan Universitas Zakazik, Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan—sayap politik Ikhwanul Muslimin, itu berpengalaman di dunia politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui pemilu tahun 2000 sekaligus juru bicara kubu Ikhwanul Muslimin di Dewan. Kini Mursi bersama Ikhwanul Muslimin meraih meraih kekuasaan tertinggi dan terhormat di Mesir, dan diharapkan membawa kesejahteraan bagi Mesir yang rakyatnya terpolarisasi.

Ikhwanul Muslimin di Mesir didukung kelompok-kelompok pro-reformasi. Dunia menanti kiprah organisasi Islam itu untuk menunjukkan dan membuktikan kemampuan mereka dalam mengelola pemerintahan yang produktif, bersih, dan berwibawa. Apalagi pertarungannya dengan Shafiq sempat menaikkan suhu politik di Mesir karena keduanya mewakili kubu berseberangan: islamis dan nasionalis-sekuler. Sejumlah tantangan menanti, baik di dalam maupun di luar negeri.

Di dalam negeri, pendukung Safiq kebanyakan nasionalis-sekuler seperti kelompok minoritas Kristen Koptik. Mereka menangisi kekalahan Safiq dan rata-rata pemilih mantan tangan kanan Mubarak itu enggan memilih Mursi karena takut Mesir menjadi negara Islam atau menganggap kemenangan Mursi bagaikan kiamat atau masa akhir Mesir. Seakan memahami kekhawatiran kalangan nasionalis-sekuler, dalam jumpa pers seusai pengumuman Komisi Pemilihan Tinggi Presiden Mesir Mursi menyatakan siap menjadi presiden setiap warga Mesir.

Di markas Partai Kebebasan dan Keadilan di ibukota Kairo, Mursi bertekad untuk memenuhi semua janji kampanye, utamanya memberikan keadilan kepada korban pemberontakan yang mengalami kekerasan menjelang penggulingan Mubarak. Kemenangannya mengantar Mesir menuju pintu gerbang. Ia meminta semua kalangan merapatkan barisan untuk melewati masa sulit. Mursi bertekad bakal membangun Mesir modern yang konstitusional dan demokratis. Ujiannya ialah menghadapi militer dan memulihkan parlemen. Sebagai ketua perunding dengan para jenderal yang berkuasa setelah kejatuhan Mubarak, Mursi jelas memiliki kemampuan merangkul militer.

Di luar negeri, bagaimana Mursi tetap bisa menjalin hubungan dengan barat seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa guna mendorong proses perdamaian di kawasan Timur Tengah. Menyangkut Israel, kita berharap Mursi tidak bersikap moderat. Rezim zionis Israel menyebut kemenangan kubu Islam di Mesir sebagai tragedi dan fase hitam hubungan Tel Aviv-Kairo. Salah satu ketakutan Tel Aviv adalah pembatalan penandatanganan kesepakatan Kamp David antara Israel dan Mesir tahun 1978 guna menormalisasikan hubungan kedua pihak.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: